AKSI NYATA MODUL 3.1 PENERAPAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN

AKSI NYATA MODUL 3.1
PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Pada sesi ini, saya akan bercerita tentang sebuah proses pengambilan keputusan yang telah saya lakukan melalui diskusi bersama waka kesiswaan dan kepala sekolah. Sebuah kasus yang saya hadapi yang mengandung dilema etika yang cukup sulit untuk diberikan keputusan.

Seorang siswa saya yang mengalami drop ekonomi di keluarganya. Kejadian ini diawali ketika ayahnya meninggal dunia. Semuanya langsung berubah. Hal ini sempat menggoncang semangat Ibunya yang otomatis mengganggu ketenangan sang anak. Namun Alhamdulillah anak tersebut sangatlah kuat. Tidak ada wajah kesedihan, ataupun putus asa. Dia tetap semangat mengarungi hari-hari tanpa sang ayah.  
Namun keadaan tersebut membuat kewajiban anak bermasalah terkait pembiayaan. Hampir setiap bulan saya menyampaikan titipan kertas tunggakan SPP dari TU Yayasan. Saya tau kertas itu akan menggangunya, namun dengan terpaksa saya harus memberikan. 

Hampir tiap bulan si Rara harus menerima surat peringatan tunggakan SPP. Tibalah saatnya waktu ujian PTS akan dimulai. Sesuai aturan sekolah bahwa syarat mendapatkan nomor ujian adalah semua siswa harus melunasi keuangannya. 
Disinilah dilemanya saya sebagai wali kelas. Rara adalah siswa yang berprestasi dan memiliki semangat yang tinggi dalam belajar. Namun disisi lain aturan harus ditegakkan agar tidak menjadi contoh bagi siswa lain melaluikan kewajibannya. 

Menanggapi kasus Rara ini saya harus menerapkan 4 prinsip, 3 paradigma dan 9 langkah pengambilan keputusan. 
Kegiatan ini bertujuan agar saya sebagai pemimpin pembelajaran dapat membantu menemukan solusi dari permasalahan murid. Keputusan tudak merugikan pihak lain, berpihak kepada murid dan dapat dipertanggungjawabkan. 
Berdasarkan analisis yang saya lakukan kasus ini menggunakan paradigma rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), menggunakan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (care based thinking) 

Melalui 9 langkah pengambilan keputusan. Saya menyadari bahwa nilai yang bertentangan dalam kasus ini adalah nilai keadilan dan nilai kemanusiaan. Penyelesaian dalam kasus ini saya melibatkan murid, orang tua, wali kelas dan waka kesiswaan. 

Dengan mengumpulkan beberapa fakta yang terjadi pada diri Rara adalah Rara adalah anak yatim. Keluarganya mengalami krisis ekonomi setelah kepergian ayahnya. Namun Rara adalah anak yang memiliki semangat belajar yang tinggi berdasarkan data dari wali kelasnya. Rara juga sering mewakili sekolah untuk mengadakan Lomba-lomba dan mengharumkan nama sekolah. Namun karena permasalahan ekonomi keluarga Rara telah melanggar peraturan sekolah terhadap kewajiban SPP dan keuangan lainnya. 

Berdasarkan fakta-fakta diatas, selanjutnya saya melakukan uji melalui 6 uji. Uji legal (tidak ada melanggar hukum), uji regulasi (ada pelanggaran peraturan jika wali kelas tetap memberikan nomor ujian) uji intuisi (tidak ada yang salah. Benar jika guru menegakkan aturan, benar juga jika guru memberikan kesempatan pada batas waktu tertentu), uji publikasi (saya merasa tidak nyaman jika keputusan saya dipublikasikan) dan terakhir uji panutan( panutan saya akan memberikan kesempatan kepada Rara sampai batas waktu yang disepakati) 

Langkah selanjutnya adalah melihat paradigma pengembangan keputusan. Paradigmanya adalah rasa keadilan lawan rasa kasihan. Dengan prinsip resolusinya adalah prinsip berfikir berbasis rasa peduli. 

Melalui tahapan diatas saya menemukan investigasi opsi trilema yaitu saya akan berkomunikasi dengan orang tuanya dan wakil kesiswaan dan memberikan kelonggaran waktu sampai batas waktu yang disepakati. 

Melalui tahapan dan pertimbangan diatas maka diputuskan memberikan kesempatan kepada Rara untuk mengikuti ujian dengan catatan orang tua membuat sebuah kesepakatan tentang batas waktu pembayaran kewajiban Rara. Hal ini juga saya konsultasikan dengan waka kesiswaan dan kepala sekolah agar memberikan peluang bantuan atau beasiswa kepada Ananda. 

Setelah mengambil keputusan saya melihat kembali keputusan tersebut dan melakukan refleksi. Keputusannya adalah memberikan kesempatan kepada Rara untuk mengikuti ujian. Hal ini memberikan pelajaran kepada saya sebagai pendidik, bahwa setiap keputusan yang kita ambil akan mengandung resiko. Namun memberikan peluang ujian dan menjaga semangat belajar murid itu adalah hal yang sangat penting kita lakukan. Tidak semua murid yang memiliki ekonomi yang cukup memiliki semangat belajar yang tinggi, apalagi sampai berprestasi dan mengharumkan nama sekolah. 

Komentar

  1. Penjabaran yang sangat menginspirasi sekali zah wel๐Ÿค—๐Ÿค—

    BalasHapus
  2. Luar biasa pengalamannya zah welna

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

INSPIRATIF TEACHER, Menjadi guru bahagia sepanjang masa

Kurikulum Merdeka Memaksaku Untuk Belajar dan Berbagi

Alam Takambang Jadi Guru