KONEKSI ANTAR MATERI – KESIMPULAN DAN REFLEKSI MODUL 1.1 “Mendidiklah dengan Hati, Belajar Mencari Solusi Bukan Langsung Melemparkan Masalah dan Menanyakan Solusi”.
KONEKSI ANTAR MATERI – KESIMPULAN DAN REFLEKSI MODUL 1.1
Nama : Welna Risna Yenti
Instansi : SMP Islam Al Ishlah BUkittinggi
CGP Anggatan : 10
Apa yang saya percayai sebelumnya?
Sebelum mempelajari modul pemikiran Kihajar dewantara saya belum meyakini sepenuhnya peran guru sangatlah besar dalam mengembangkan kodrat anak. Peran guru hanya sebatas menamatkan anak dari tingkatan pendidikan tertentu. Selanjutnya guru pada tingkatan Pendidikan berikutnyalah yang berkewajiban terhadap masa depan anak. Padahal sebenarnya Pendidikan pada setiap tingkatan Pendidikan sangat mempengaruhi tumbuh kembangnya kodrat anak. Setiap tingkatan Pendidikan akan memberikan kontibusi yang berbeda sesuai dengan fasenya. Jadi apa yang kita berikan kepada anak akan sangat mempengaruhi kehidupan masa depan anak bahkan kehidupan bangsa Indonesia itu sendiri.
Sebelum mempelajari modul 1.1 ini sekolah saya memang sudah menerapkan kurikulum merdeka, yang mana saya memandang kurikulum ini juga sejalan dengan pemikiran kihajar dewantara. Sebelum mempelajari modul ini saya juga sudah menerapkan pembelajaran diferensiasi. Tetapi hanya sebatas formalitas, sebatas tuntutan kurikulum dan tugas dari kepala sekolah. Saya belum memahami dasar-dasar mengapa pembelajaran harus menerapkan pembelajaran deferensiasi. Sehingga aplikasinya dalam pembelajaran juga seadanya belum memberikan efek dan hasil yang sesuai.
Sumber gambar : https://sman1dolopo.sch.id/2022/06/belajar-dari-filosofi-ki-hajar-dewantara/
Proses pembelajaran di sekolah dan kelas saya juga sudah menerapkan pemikiran Kihajar dewantara sesuai dengan konteks lokal dan sosial budaya daerah saya. Semua ini terintegrasi dalam profil pelajar Pancasila dalam kegiatan PBM dan kegiatan projek (P5) di sekolah saya. Seperti randai, makan bajamba, demokrasi dalam pemilihan OSIS serta penerapan P3 dalam di kelas. Namun saya pribadi sebelumnya belum meyakini manfaat dan pentingnya hal tersebut dilakukan terhadap anak-anak. Hanya sebatas mengikuti tuntutan kurikulum saja.
Sumber foto : group whatsappKehadiran orang-orang hebat, seperti Ibu Hani sebagai Instruktur , Ibu Nia sebagai fasilitator dan Ibu Iin sebagai guru PP serta guru-guru hebat CGP Bukittinggi telah memberikan banyak motivasi dan pelajaran bagi saya. Sebelumnya saya mempercayai bahwa tugas guru memiliki batas tertentu. Adakalanya siswa harus diberikan kepada pihak lain yang lebih tepat. Tetapi mereka mengajarkan saya untuk tidak cepat menyerah. “Mendidiklah dengan hati, belajar mencari solusi bukan langsung melemparkan masalah dan menanyakan solusi”.
Apa yang berubah dari pemikiran dan perilaku saya?
Ki Hadjar Dewantara menjelaskan pemikirannya tentang pendidikan, bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Pada dasarnya pendidik hanya dapat menuntun tumbuh kembangnya kodrat anak. Dimana pendidik dapat menerapkannya melalui tri sentra pendidikan, yaitu ingarso sangtulodo, ingmadya mangunkarso tut wuri handayani.
Pada prakteknya anak diberikan kebebasan dalam mengembangkan kodratnya. Dalam hal ini Pendidikan harus diberikan dengan memperhatikan kodrta keadaan anak, yaitu kodrat alam dan kodrat zaman. Pendidikan yang berorientasi kepada murid akan memberikan pengalaman yang bermakna dan menyenangkan.
Setelah mempelajari modul 1.1 ini saya meyakini bahwa guru memegang peran yang sangat besar dalam mewujudkan cita-cita Pendidikan nasional. Guru sebagai pendidik selayaknya tidak hanya sebatas memberikan teladan tetapi bagaimana guru juga bisa memberikan dorongan dan motivasi kepada anak. Guru harus menjadikan murid sebagai mitranya, tidak menghakimi tetapi membersamai murid dalam perjalanan pendidikannya. Tugas guru adalah memberikan kenyamanan, bukan malah memberikan ancaman.
sumber gambar : https://sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id/gurupenggerak/
Berdasarkan pemikiran
Kihajar dewantara ini membuka cakrawala saya, membuat saya tertarik untuk
membuka diri dan menyesuaikan kompetensi diri dengan perkembangan zaman. Saya
mulai ikhlas menjalankan Pendidikan guru penggerak ini, saya juga sudah mulai
mau berbagi praktik baik kepada teman sejawat, saya suka berkolaborasi dengan
berdiskusi dan bertukar pikiran dengan teman-teman. Sebab saya meyakini tidak
hanya murid, gurupun terlahir dengan kodrat yang berbeda. Sehingga setiap guru
akan memiliki kelebihan yang harus saya ambil untuk pribadi saya.
Apa yang dapat segera saya terapkan ?
Langkah awal yang akan saya lakukan agar pembelajaran di kelas mencerminkan pemikiran kiyajar dewantara ini adalah meyakinkan sepenuhnya bahwa murid terlahir dengan bakat dan minatnya masing-masing sesuai dengan kodrat alam yang dibawa sejak lahir. Dan saya sebagai pendidik bertugas sebagai penuntun tumbuh kembangnya bakat tersebut. Penyajian pembelajaran di dalam kelas harus saya sesuaikan dengan kodrat zaman. Dimana tuntutan kodrat zaman saat ini adalah murid harus dibekali dengan kecakapan abad-21.
Selanjutnya saya akan mengembangkan pembelajaran dengan pendekatan diferensiasi berdasarkan hasil tes diagnostik murid. Menggunakan model pembelajaran yang tepat dengan mendukung kecakapan abad-21 anak selama proses pembelajaran. Menggunakan media yang interaktif dan bervariasi sehingga terpenuhinya kebutuhan murid dalam mengembangkan bakat dan minta mereka masing-masing. Selanjutnya saya akan selipkan pengintegrasian profil pelajar pancasila dalam proses pembelajaran karena saya yakini ini akan meningkatkan karakter dan budi pekerti murid.
keren sekali buk Wel. setuju dengan Bu Wel, bahwa guru harus selalu membuka diri dengan segala perubahan yang ada.
BalasHapus