Hidayah yang tak di undang kenapa tidak ditularkan?

Seorang Bapak yang sering datang kesekolah untuk keperluan anaknya. Alhamdulillah saya sebagai wali kelas ananda sangat bersyukur. Namun ya itulah saya. Sempat berpikiran negatif tentang sang Bapak. Setiap saya bertemu saya sapa dan kasih senyum terikhlas tapi balasannya pontong saja. Hanya sekedar ya. Termasuk dalam acara pembagian rapor. Sang Bapak pasti cuma nanya. Gimana Ani zah? Ada bagus nilainya? Sembari memperlihatkan rapornya saya mulai menjelaskan. Belum selesai juga, sang Bapak langsung bilang. "Alhamdulillah lai rancak yo zah". Kemudian langsung bilang Terima kasih dan pamit pulang. 

Beberapa pertemuan berikutnya saya juga sering bilang dihati, Astaghfirullah. "Bapak ini gayanya agak sombong". Seperti saya ngak saja. Sang Bapak ketika bertemu memang hanya akan menunduk dan to the point. Sayapun biasanya hanya jawab point point saja. Heee

Tapi kali ini pertemuan saya dengan sang Bapak memberikan hasil yang luar biasa. Sang Bapak tidak sempat datang pas hari pembagian Rapor dan datang pada hari berikutnya. Saya memang bersiap- siap dengan gaya to the point beliau. 

"Bagai mana zah, ada bagus nilai Ani". "Alhamdulillah pak. Nilai Ani bagus pak. Anipun termasuk anak zah yang elok laku".
Sayapun mencoba mempersilahkan duduk kali aja sang Bapak mau duduk meski di luar perkiraan saya. Hebatnya tak sekedar itu beliau juga memberikan petuah dan ilmu beliau yang luar biasa dalam mendidik anak. 

Saya pancing dengan suatu pertanyaan. 
"Ani pergi kegiatan tahfidz sekolah ya Pak  ada sehat-sehat Ani disana Pak". "Alhamdulillah zah".
 "Ani luar biasa dalam menghapal Alquran ya pak. Ustadzah kemaren sempat menerima setoran dan menanyakan tips menghapal sama Ani. Ustadzah diberi tips dan semangat Pak bahkan di tantang mulai besok Ani terima setoran hapalan ustadzah". 

Hee sang Bapak tertawa bahagia mendengarnya. Mulailah beliau bercerita. 
"Ani memang menghapal dengan keinginan sendiri zah. Tidak ada lagi kami suruh-suruh". 
"Wah,, keren pak. Tapi rasanya tidak mungkin Ani seinstan itu untuk bisa dengan mandiri dan dengan kesaladaran sendiri untuk menghapal kan Pak?"

"Iya lah zah. Memang sekarang kami yang senang. Tapi mulai masuk kelas 1 SD Ani sudah kami masukkan kelas Quran. Sejalan dengan gurunya di sekolah. Memang semangat anak akan kendor sekali-kali. Tapi kita sebagai orang tua jangan pernah kendor. Terus disiplin dengan niat awal. Saat anak lemah jangan kasih iba yang akan membuatnya akan semakin lemah. Tapi jutru kita harus tetap disiplinkan. Awalnya memang anak akan terpaksa. Tapi nanti ia akan terbiasa dengan Alquran. Bahkan dia merasa aneh jika sehari tidak menghapal".

Ani memang mudah dalam menambah hapalan. Tetapi dia sulit mempertahankan hapalan karena waktu untuk murajaah uang konsisten kurang. Sayapun kurang bisa intensif mendampingi. Makanya rencananya saya akan masukkan dia kelas mondok tetapi tetap sekolah disini. Dengan begitu dia akan selalu memurajaah hapapannya. Harapan saya memang Ani bisa menghapal 30 juz. 
"Masuk kelas khusus Quran? Sekarang mau dimasukkan pondok khusus quran? MasyaAllah. Berarti memang selain perhatian kita memang harus harus korban uang banyak ya pak".

"Ustadzah, jangan pernah ragu untuk mengeluarkan biaya untuk pendidikan agama anak. Allah tidak pernah ingkar dengan janjinya. Jangan hanya sekedar percaya dengan ayat Alquran tetapi yakinlah zah. Yakinnya itu bulat jangan sumbing zah".

"Sebenarnya kalo yakin kita kurang itu berarti iman kita yang dipertanyakan ya Pak? Saya malah bertanya yang memojokkan diri saya sendiri".
"Nah begitu".kata sang Bapak. 

Sayapun sadar, bahwa imam ini masih dipertanyakan. Baru saja kemaren anak minta Alquran untuk dibawa sekolah. Masih saja saya undur dengan alasan ini itu. Saya masih ragu untuk mengeluarkan uang untuk kepentingan pendidikan agama anak. 

"Percayalah ustadzah, dengan mengeluarkan uang untuk pendidikan Alquran anak kita mendapatkan 2 pahala. Pahala sedekah karena mengeluarkan uang dijalan Allah. Kemudian pahala mendidik anak". 
Iya juga ya. Ngapain cari pahala jauh2 didekapan kita juga sumbernya sudah luar biasa. Sama juga halnya dengan yang sering kita dengar, sedekah terbaik adalah kepada keluarga. Orang tua dan saudara. 

Bapak itu mulai bercerita tentang anak anaknya yang sudah sukses.
" Kakak Ani yang paling tua tamatan komputer UI dan sekarang sudah bekerja, anak kedua, ketiga dan keempat. Alhamdulillah, jika kita ukur dengan pikiran kita tidak mungkin rasanya bisa bersaing di kampus kampus favorit se Indonesia. Begitu banyak rasanya anak-anak yang berasal dari sekolah terbaik. Kita tau sendiri bagaimana pendidikan di kota-kota besar. 
Saya yakinkan bahwa Allah tidak pernah ingkar dengan janjiNya. Inilah balasan dari pengorbanan dan sedekah kita kepada Anak-anak. Semoga kita semua selalu Allah mudahkan dijalanNya". 
Begitulah kata-kata penutup dan Bapak itupun pamit untuk pulang. Saya mengucapkan terima kasih atas ilmu beliau yang kuar biasa. Syukur kepada Allah atas hidayah yang Dia titipkan melalui Bapak ini kepada saya. Sayapun langsung membelikan Alquran terbaik untuk anak saya balik pulang sekolah. Ya Allah, mohon berikan saya kekuatan dan keistiqomahan. Aamiin... 🤲🤲

Komentar

  1. Ilmu ada di mana2 ya bun. Semnagat mendidik anak bangsa, dan anak kandung sendiri 😍😍

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

INSPIRATIF TEACHER, Menjadi guru bahagia sepanjang masa

Kurikulum Merdeka Memaksaku Untuk Belajar dan Berbagi

Alam Takambang Jadi Guru