SISTEM TANAM TUAI
SISTEM TANAM TUAI
Oleh : Welna Risna Yenti,S.Pd.I
Guru SMP Islam Al Ishlah
Bukittinggi
Menjadi orang tua
merupakan pilihan hidup dan menjadi orang tua yang hebat adalah keinginan semua
orang tua. Begitulah yang disampaikan oleh Bapak Zeno Mendoza, S.Psi. dalam
materinya pada acara parenting yang diadakan oleh TK Islam Al Ishlah
Bukittinggi Kamis lalu (24/8).
Setiap
orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Termasuk orang tua
yang buruk sekalipun pasti menginginkan anaknya mendapatkan dan menjadi yang terbaik. Ingin anaknya menjadi anak shaleh,
pintar, sukses, dan lainnya. Tapi sayangnya, sangat jarang orang tua
menginginkan anaknya bahagia.
Kita sering mendoakan
anak, bahkan selalu ya. Tapi dalam doa kita hanya terucap permohonan menjadikan ia
anak yang sehat, anak yang cerdas anak yang shaleh atau lainnya. Pernahkah
kita memohon kepada Allah supaya anak-anak kita selalu bahagia? Selanjutnya apakah
kita sudah mencita-citakan anak-anak kita selalu bahagia? Dan yang terpenting
apakah kita sudah berusaha untuk mencapai cita-cita tersebut? Berupaya
melakukan hal-hal agar anak-anak kita selalu bahagia.
Anak itu dilahirkan
sesuai dengan fitrahnya. Anak-anak lahir dengan membawa bakat dan potensinya
masing-masing. Mungkin salah seorang
anak kita dilahirkan seperti bibit durian. Maka jika kita ingin durian itu
tumbuh menjadi durian yang subur, banyak buah dan berkualitas. Maka seharusnya
kita memupuk dan merawatnya dengan baik sesuai kebutuhan dan harapan kita
tersebut.
Bisa jadi anak kita
yang lain Allah beri seperti bibit bayam. Tentu saja kita tidak menginginkan
ia tumbuh seperti durian bukan? Mustahil dia bisa tumbuh tinggi, dengan batang
yang besar dan kuat serta berbuah besar. Justru tentu saja kita ingin dia tumbuh menjadi sayur
yang subur dan sehat. Maka yang harus kita lakukan adalah memberikan perawatan
sesuai kebutuhan dan harapan kita juga pada rumbuhan bayam tersebut.
Artinya apa? Jangan sampai
kita memberikan perlakuan yang sama antara bibit durian dengan bibit bayam.
Tapi berikanlah sesuai dengan kebutuhan dan harapannya masing-masing. Bagitu
juga dengan anak kita. Jangan kita menganggap adil dengan memberikan perlakuan
dan pelayanan yang sama dengan anak-anak kita. Tapi berikanlah sesuai dengan
kebutuhan sesungguhnya. Dukunglah anak kita mendapatkan apa yang ia butuhkan.
Sehingga berarti mendukung apa yang kita harapkan darinya.
Hal ini tidak hanya berlaku untuk orang tua. Tetapi guru di sekolah seharusnya juga memahami dan menerapkan. Oleh karena itu, pemerintah telah mengembangkan kurikulum menjadi kurikulum merdeka. Pada proses pembelajarannya kita mengenal adanya pembelajaran berdiferensiasi. Dimana, melalui pembelajaran ini diharapkan guru dapat menfasilitasi anak-anaknya dalam proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik mereka. Sehingga terciptanya merdeka belajar bagi anak.
Marilah kita bercermin sejenak. Kita pernah bukan berburuk sangka kepada orang lain? Padahal nyata-nyata orang
tersebut sudah berbuat baik kepada kita. Tapi kita malah berburuk sangka.
Jangan-jangan dan Jangan-jangan. Nah sikap kita ini sebenarnya sudah ada sejak
kita kecil. Pola asuh orang tua yang
keliru menyebabkan kesalahan yang fatal pada masa depan anak.
Mari kita tanyakan diri
kita sendiri. Apakah kita pernah marah kepada anak? Dengan alasan apa? Apakah
alasannya untuk kebaikan anak atau untuk pelampiasan emosi kita yang
tersesak? Umumnya orang tua marah karena
bentuk pelampiasan lelah, panik dan emosi yang tidak terkendali.
Jangan marah, karena Jangan-jangan mereka sedang bereksplorasi dalam mengembangkan potensinya. Anak 10 bulan cendrung merangkak, mencari dan meraih benda-benda sekitar yang kemudian memasukkan kedalam mulutnya. Kita cendrung langsung melarang bukan? Atau membatasi perilaku anak.
Pernahkah kita merasa
gugup atau takut untuk melakukan sesuatu? Misalnya untuk tampil didepan umum. Hal ini juga diawali dengan pola asuh orang tua kita yang salah. Anak tidak mendapatkan kebebasan untuk bereksperimen dan bereksplorasi waktu
masa usia dini. Orang tua lebih cenderung memilih jalan pintas. Supaya tidak
bekerja lagi, supaya tidak repot lagi atau supaya tidak mengerjakan hal yang
sama lagi. Maka alhasil anak dilarang dan dilarang. Akibatnya anak tidak mempunyai kesempatan untuk berekplorasi. Tidak bisa mengembangkan potensinya. Bahkan
tidak mustahil potensi anak tersebut bisa saja mati.
Tentu saja kita tidak
menginginkan hal-hal buruk yang ada pada diri kita turun kepada anak kita. Oleh
karena itu kita harus terus belajar dan bersabar. Jangan marah sehingga
mematikan potensi anak. Cobalah arahkan anak sehingga dia bisa melakukan eksplorasinya
dengan positif. Misalnya ketika anak main air di lantai. Jelaskan dan buktikan
bahwa air yang dimainkan mengenai lantai maka membuat lantai menjadi licin.
Selanjutnya arahkan anak main air di
luar sehingga ia dapat berekspresi dengan positif. Tapi jika kita marah dan
tidak mengarahkan. Maka akan berefek matinya potensi anak kita.
Contoh lain, dalam acara 17-an seringa diadakan lomba. anggaplah lomba pacu karung. Ketika dia tidak berhasil mendapatkan No. 1 maka tetaplah memberikan hadiah sesuai dengan usahanya. Kemudian tetaplah berikan apresiasi dan semangat untuk terus belajar dan berusaha lebih baik. Jangan ajarkan anak mengikuti kegiatan itu adalah untuk mengalahkan orang lain. Sehingga timbulnya karakter anak yang berbahagia di atas kekalahan orang lain.
Yakinkan ketika anak melakukan suatu yang benar dan baik maka pastikan anak mendapatkan apresiasi dan semangat. Tapi ketika dia melakukan kesalahan maka dia tidak mendapatkan hujatan atau marah tetapi dia mendapatkan arahan. Sehingga dia menyadari kesalahan dan selanjutnya bisa melakukan yang lebih baik.
Dukungan dan apresiasi dari orang tua dan guru merupakan hal terpenting bagi anak dalam pembentukan karakternya. Karena merekalah orang-orang yang dipercayai oleh anak. Ketika orang tuanya mengajarkan di rumah, lalu diperkuat dengan penjelasan oleh guru. Maka kesejalanan konsep ini akan menghasilkan karakter yang mantap pada anak.
Ketika anak kita kangen dengan sesuatu makanan apakah itu salah? Tidak. Kita juga tidak pernah mengundang tiba-tiba teringat sang mantan bukan? Oleh karena itu, jika kita mampu memenuhi maka kabulkanlah. Tapi ketika itu tidak bisa dipenuhi maka kita sebagai orang tua atau guru bertugas membantunya mengendalikan keinginannya. Karena bagi kita yang sudah dewasa, kita bisa mengontrol sesuatu yang kita rasakan. Tapi anak usia dini belum bisa. Maka kita wajib mengarahkan dan membantu mereka mengontrol perasaan atau keinginannya.
Jangan menyalahkan anak
zaman now dengan zaman kita dahulu. Karena bukan zamannya yang salah tetapi
lingkungannya. Maka marilah kita ciptakan lingkungan anak-anak kita sesuai
dengan kebutuhan dan harapannya. Siapa yang menanam maka ia akan menuai. Jika
kita ingin menuai buah yang baik dan berkualitas. Maka rawat dan pupuklah bibit
yang kita miliki sesuai dengan kebutuhan dan harapan kita.
Komentar
Posting Komentar