Mengenalkan dan mengaplikasikan Nilai-Nilai Adat Minangkabau untuk memperkuat syari'at Islam

Dalam rangka meningkatkan kualiatas akhlak peserta didik,  SMP Islam Al Ishlah mengadakan kegiatan Parenting. Kegiatan parenting ini merupakan kegiatan parenting untuk orang tua dan guru. Mengapa kegiatan ini penting dilakukan? karena kita menyadari dalam mendidik anak bukanlah sepenuhnya tugas sekolah namun kegiatan mendidik anak merupakan bentuk kerja sama antara sekolah dengan orang tua. 
Perkembangan zaman mengakibatkan banyaknya perubahan. Khususnya perubahan dalam hal adat istiadat yang imbasnya adalah kepada karakter peserta didik. Adat Minangkabau sudah sangat jauh ditinggalkan oleh peserta didik kita. Oleh karena itu SMP Islam Al Islah mengadakan kegiatan Parenting ini dengan mengangkat tema "penanaman konsep adat Minangkabau sesuai syariat Islam" materi kali ini disampaikan oleh Angku yus datuak parpati beliau adalah salah seorang tokoh adat. Kegiatan ini diadakan di auditorium perpustakaan bung hatta. 
Beliau dari kecil bernama yusbir, mendapat gelar datuak parpatiah. Dinobatkan menjadi mamak urang caniago. Pada awalnya beliau adalah berdagang sejak selesai SMA. Namun pada pekerjaan ini belum berhasil. Bak kato urang minang, selalu dapek pitih jantan, ndak dapek pitih batino. Bara pitih nan ado abih, cukuik untuak makan sajo. 

Beliau teringat pantun kawan. "pado lalu di jam gadang rancak lalu di janjang 40. Daripado pulang ka kampuang rancak rantau den pajauah". Kemudian terjun ke bidang seni. Inilah awal mulanya beliau masuk dunia budaya dan seni. 
Dalam materinya Angku menyampaikan bahwa takaran martabat manusia Minangkabau itu adalah moral, akhlakul karimah dalam islam. Budi baso dalam Minangkabau. Bukan keberanian, bukan harta, bukan pula kepintaran, semua ini hanya pelengkap saja. 
Orang bagak yang tidak bermoral tidak ada artinya dalam masyarakat. Cadiak, cadiak sajolah sorang, nan kami ndak kabatanyo. Apakah masih ada artinya kepintaran kita jika ilmu itu sendiri tidak bermanfaat bagi orang lain? 

Banyak pantun yang kita baca, budi dan baso selalu ditulis beriringan. Apasih sebenarnya budi itu? Budi adalah tindak tanduk seorang minang yang berbentuk kepada pembelaan kepada orang lain. Dalam keadaan bagaimanapun selalu berusaha membela orang lain. Baik dari segi materi, bantuan fisik ataupun fikiran. 
Sesuai dengan kemampuan manusia itu sendiri. Managakkan urang nan jatuah. Budi juga bisa diartikan daya dan upaya seseorang dalam membantu orang lain. Indak buliah basilengah ka urang. Karena manusia tidak bisa hidup sendiri. 

Sementara itu baso adalah bahasa, tutur, kata-kata yang diucapkan dengan santun. Baso sangat menentukan nilai seseorang. Jika basonya bagus maka seseorang itu akan bernilai. Oleh karena itu, budi baso adalah hal yang sangat penting diberikan kepada anak-anak kita. 
Anak-anak zaman sekarang ini tidak tahan sindiran lagi. Harus disampaikan secara jelas. Ketika anak bertanya, kata Ustadz kita harus takut kepada Allah. Kok begitu? Bukannya Allah itu penyayang? Bagaimana kita menyampaikan kepada anak kita? 
Anak zaman sekarang juga menganggap adat itu tidak penting lagi. Adat itu penyesatkan. Contohnya, duduak basamo balapang-lapang, duduak sorang basampik-sampik. Anak-anak yang tidak paham menganggap ayat dan pepatah ini salah. Seharusnya duduk bersama bersempit, duduk sendiri berlapang-lapang. 

Zaman dahulu zaman sami'na waatha'na. Apa yang disuruh langsung dikerjakan tanpa harus bertanya apalagi protes. Zaman sekarang zaman anak mudah komplen. Jadi setiap segala sesuatu itu harus dijelaskan dahulu dengan penyampaian yang tepat. 
Jadi untuk bisa menyampaikan dengan tepat maka kita mulailah dari kita sendiri.
Pembelajaran itu akan mudah dipahami jika diberikan contoh nyata. Itulah makanya kita mengenal adanya pembelajaran kontekstual. Orang tua tidak bisa menyuruh saja zaman sekarang ini jika tidak memberikan contoh langsung. Jika kita ingin memberikan intruksi maka mulailah dengan memberikan penjelasan kemudian lakukan terlebih dahulu sebagai hal yang akan di contoh oleh anak. 

Banyak hal di adat minang kabau yang terlarang. Tapi apakah anak-anak kita zaman sekarang bisa mematuhi secara langsung? Tentu tidak. Kita harus memberikan penjelasan kepada anak-anak kenapa hal tersebut dilarang. Jika hal tersebut sudah dijelaskan makan mereka akan mematuhi. Tapi yang jadi masalah pada saat sekarang ini. Banyak orang tua yang tidak mampu menjelaskan kenapa hal tersebut terlarang. Akibatnya banyak terjadi perlawanan dan penolakan dari anak-anak kita. 

Jangan pernah menyerah dengan keadaan. Teruslah belajar. Pelajari karakter anak dan pelajari cara memberikan didikan moral. Berikan dengan kesabaran. Memang cara lama tidak akan bisa kita terapkan sekarang, tapi jangan sampai pola pendidikan kita saat ini meninggal nilai-nilai yang sudah ada. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

INSPIRATIF TEACHER, Menjadi guru bahagia sepanjang masa

Kurikulum Merdeka Memaksaku Untuk Belajar dan Berbagi

Alam Takambang Jadi Guru