MENJADI GURU ADALAH ANUGRAH
MENJADI GURU ADALAH ANUGRAH
Oleh, Welna Risna Yenti
Guru SMP Islam Al Ishlah Bukittinggi
Kita sadari bahwa saat ini begitu banyak jenis profesi. Kemudian untuk tetap bertahan beberapa profesi harus bersaing dengan profesi yang sejenis. Bahkan di akhir abad 21 ini ada beberapa profesi baru yang mampu menenggelamkan profesi lainnya. Seperti pengantar pos saat ini sudah digantikan oleh kurir, karena posisi surat pos sudah digantikan oleh email. Masih banyak lagi beberapa profesi yang terancam punah karena kemajuan tegnologi.
Salah satu profesi yang tidak akan tergantikan sepanjang zaman adalah guru. Walaupun ilmu sudah berkembang dan tersebar dimana-mana tetap seseorang itu membutuhkan seorang guru. Karena sejatinya guru bukan saja mentransfer ilmu, namun lebih dari itu. Jika seseorang berfikir tugas guru hanya sekedar mentransfer ilmu maka posisinya bisa saja digantikan oleh google. Karena google bisa memberikan semua jenis ilmu. Namun google tak dapat mendidik seperti halnya yang dilakukan guru.
Melihat pentingnya profesi guru, lalu apa sih kelebihannya menjadi guru itu? Menjadi guru bukanlah hanya sekedar profesi. Melainkan sebuah anugrah Allah yang sangat indah dan wajib kita syukuri. Karena tidak semua yang mencita-citakan bisa menjadi guru. Sebaliknya yang tiada bercita-cita malahan Allah takdirkan menjadi guru. Bagaimanapun asal mula dan jalan ceritanya seorang guru harus bangga dengan profesinya sekarang ini.
Guru adalah yang di gugu dan di tiru. Menjadi guru membuat
kita terpaksa mempatenkan diri menjadi tauladan dimanapun berada. Mustahil seorang siswa mau
mendengarkan guru apalagi melakukan sesuatu yang diperintahkannya sementara gurunya tidak melakukan
hal yang sama. Apalagi jika gurunya
melakukan hal yang bertolak belakang dengan apa yang mereka sampaikan kepada
siswanya. Sebab jika hal itu terjadi, Allah sendiri akan mempertanyakan keimanan guru tersebut. Hal ini disampaikan Allah dalam al qur'an surat Ash-Shaff ayat 2-3. Yang artinya“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan
sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu
mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”
Berbeda hal nya dengan artis. Artis bisa saja dia berperilaku berbeda sesuai dengan tuntutan yang diberikan kepadanya. Artis akan berpenampilan atau bergaya layaknya seorang ustadz jika sutradara menuntutnya sebagai ustadz. Namun di lain drama bisa saja dia berpenampilan seperti perampok jika sutradara meminta hal yang demikian. Bagi seorang guru ia harus berperilaku sama dimanapun ia berada. Apakah di keluarga, sekolah ataupun masyarakat luas. Sebab sutradara yang akan mengatur perilakunya adalah profesinya sendiri.
Menjadi guru adalah wadah untuk membentuk diri menjadi pribadi yang lebih baik. Menjadi guru mendidik kita untuk berusaha ikhlas dan sabar dalam berbuat. Menarik hati untuk selalu berbuat dan mengajak kepada kebaikan. Tidak sedikit dari guru yang hijrah. Mereka yang awalnya tidak pernah salat, menjadi rajin beribadah saat berprofesi sebagai guru. Mereka yang awalnya suka berkata kotor atau berpenampilan tidak sopan seiring berjalannya waktu menjadi seorang panutan di lingkungannya. Karena seketika mereka ingin berbuat sesuatu yang tidak baik maka hati mereka akan berkata bahwa dia adalah seorang guru.
Guru merupakan ladang dakwah terbesar. Guru memiliki ruang gerak yang luas untuk berbuat baik. Tak repot harus pergi ke sana kemari menuju majlis-majlis ilmu untuk berdakwah. Karena seorang guru bisa berdakwah sambil bekerja. Ketika seorang siswa melakukan kesalahan maka hati seorang guru akan tertarik untuk menegur dan menunjukkan kepada kebenaran.
Kesempatan bagi seorang guru untuk memperbanyak menyemai kebaikan di setiap pertemuan dengan siswa-siswanya. Karena suatu saat nanti keikhlasan dan kebaikan itu akan bermuara untuk kebaikan guru itu sendiri. Seperti yang janji Allah dalam surat Al Naml ayat 89, “Barang siapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik daripadanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tentram dari kejutan yang dahsyat pada hari itu”.
Waktu bekerja seorang guru juga memperhatikan waktu-waktu untuk beristirahat dan beribadah. Banyak profesi lain yang kadang memakan waktu istirahatnya bahkan mengundur waktu untuk beribadah. Di sisi lain justru guru mendapat waktu khusus untuk hal tersebut. Ketika guru menyuruh siswanya untuk shalat maka guru juga bisa shalat pada waktu tersebut. Ketika memberi waktu siswa untuk istirahat maka guru juga bisa beristirahat.
Menjadi guru adalah wadah untuk belajar. Meskipun guru sudah belajar di bangku perkuliahannya, namun tuntutan perkembangan zaman juga membuat guru harus terus belajar. Sangat tidak masuk akal jika seorang guru berani masuk kelas jika dia tidak belajar terlebih dahulu. Minimalnya guru harus lebih dahulu semalam dari siswanya.
Belajar tidak harus bersumber dari buku. Alam takambang jadi guru. Melalui siswanya seorang guru juga bisa belajar. Belajar dari kekurangan dan kelebihan siswa. Belajar dari masalah yang mereka hadapi. Belajar dari karya-karya mereka atau dari sikap mereka yang tidak sesuai. PR-PR yang mereka berikan ini menuntut kita untuk terus belajar dan mencarikan solusi.
Menjadi guru adalah wadah untuk berinovasi. Guru hanya duduk di bangku yang sama atau paling tidak di tingkat yang sama setiap tahunnya. Sementara guru harus mendidik siswa dari generasi ke generasi. Dan jelas. Setiap generasi itu memiliki karakteristik dan perkembangan yang berbeda. Siswa yang lahir di zaman yang berbeda tentu memiliki pola pikir yang berbeda. Mustahil seorang guru bisa menjalankan tugasnya sepanjang zaman jika tak mau berinovasi
Jadi menjadi guru itu adalah anugrah
yang harus kita syukuri. Salah satu cara kita untuk mensyukurinya adalah
memanfaatkan profesi ini dengan penuh tanggung jawab. Bekerja dengan ikhlas dan dan penuh kesabaran. Bekerja dengan sepenuh hati hingga menghasilkan generasi yang berbudi pekerti. Karena kita tahu guru adalah pelukis masa depan. Ditangan gurulah akan lahir generasi-generasi penerus bangsa.
Komentar
Posting Komentar