Untukmu yang akan naik level
"Tuhan, saya ridha dengan takdirMu ini. Kuatkan saya ya Rabb".
Saya tak boleh mengeluarkan air mata, saya tak boleh perlihatkan lemah saya dihadapan manusia ini.
" Hei... Apa kamu tak punya mata? Motor buntutmu telah menabrak mobilku. Lihat, mobilku gores. Kamu tahu, untuk memperbaiki mobil ini biayanya mahal tau".
Dia menatap saya dengan mata terbelalak besar. Seakan bola mata itu ingin meloncat dan menghantam kepala ini. Tangannya yang besar dan keras menunjuk-nunjuk ke arah saya. Dan sekali-kali tertuju ke mobilnya yang gores. Tak ada jawaban yang mampu saya katakan.
"Astaghfirullah... Apakah saya telah menabrak mobil orang besar ini? "
Ya, ini adalah skenario Allah. Entah panggilan dari mana, saya yang biasanya pergi sendiri ke sekolah sekarang suamiku menawarkan diri untuk mengantarku meski dengan motor berbeda. Memang, hari ini badanku kurang fit.
"Ada apa pak, saya suaminya"
"Ooh jadi ini istri kamu. Lihat, istrimu telah menabrak mobilku. Mobilku jadi gores. Dan aku ndak tau lagi entah kerusakan apa lagi yang terjadi. Apa kalian bisa mempertangggungjawabkan semua ini? "
"Mari kita selasaikan baik-baik pak".
Suami saya berusaha menjawab dengan tenang. Motor saya di bawa kebagian tepi jalan. Suami saya nampak berdiskusi dengan pemilik mobil mewah itu. Akhirnya suami saya mengajak ikut. Kami harus mengganti rugi semua kerusakan pada mobilnya. Proses selanjutnya adalah ke bengkel.
Dua jam telah berlalu. Proses perbaikan mobil itu telah selesai. Pemberi jasa bengkel itu mengatakan biaya perbaikannya mencapai 2juta lebih. Dengan kebaikan hatinya Alhamdulillah diskon 15% diberikan.
Laki-laki itu meminta saya untuk membayar keseluruhannya. Layaknya kesalahan ini di sebabkan oleh saya 100% nya. Sementara dia adalah korban yang tiada salah sama sekali.
Genap 2 juta saya harus membayar biaya jasa bengkel itu.
Hati ini masih bertanya apakah benar saya yang menabrak mobil mereka? Apakah benar saya adalah pelaku tunggal kecelakaan ini? Tanpa ada pihak kedua yang mengaku juga merasa bersalah. Saya tak bisa pastikan semua ini. Karena memang kondisi saya yang jurang fitbdan kurang fokus.
Tak perlu katakan siapa kita. Tak perlu pusungkan dada tuk lihatkan besarnya kita. Tak perlu, karena mutiara di dasar lautanpun tetap di cari. Bintang yang jauh dan kecilpun tetap di pandangi.
Tidak semua yang dibakar api akan hangus menjadi arang dan abu. Ingatlah batu bata saja sengaja dibakar agar lebih kokoh dan kuat. Ulatpun harus melewati beberapa fase sebelum bisa menjadi kupu-kupu yang indah. Bahkan burung elang harus menghancurkan bagian tubuhnya sendiri supaya bisa mendapatkan bulu, cakar dan paruh yang baru dan kuat.
Begitupun dengan kehidupan, tidak semua hinaan akan menghancurkan kita. Terkadang Allah sedang menguji agar kita lebih kuat. Tidak perlu mencari pembenaran ditengah hiruk pikuk hati mereka yang busuk. Diam dan berdo'alah kepada Allah karena doa orang yang teraniaya tidak akan ditolak. Ketika saatnya telah tiba Allah akan membalas seumpama anak panah membidik lansung tepat sasaran.
Allahpun mengatakan, bagaimana mereka bisa mengatakan bahwa mereka itu beriman. Sementara mereka belum Kami uji"
InsyaAllah ini adalah panggilan Allah untukmu naik level saudariku 🥰🥰
Komentar
Posting Komentar