cerpen : Jangan mencapku Lemah
Dooor... Dooor.. Door...
Letusan balon yang mengeluarkan serpihan kertas-kertas berwarna mengkilap cukup mengejutkan saya. Berlanjut dengan seruan serenta dari dalam kelas itu. Happy teacher day buk...
"Masyaallah... Kamu semua mengejutkan ibuk Nak".
" Iya buk, kami sengaja. Biar surprise buk"
Mereka menarik tanganku menuju meja depan. "Silahkan duduk Buk".
Berlanjut dengan suguhan kue yang bertuliskan happy teacher day ibu Jamilah.
Salah seorang dari merekapun berucap dengan penuh semangat dan penuh makna.
Siswa- siswa perempuan mengerumuniku di meja depan itu. Sementara siswa-siswa laki-laki nampak di belakang, menyanpaikan ucapan selamat melalui ekspresi wajah mereka yang penuh gembira. Tanpa sengaja mataku tertuju kepada seorang siswa laki-laki di tepi sana. Siswa itu adalah khalif. Diantara kehebohan dan kegirangan teman- temannya dia hanya diam terpaku. Hanya sesekali ikut tersenyum ingin larut dalam suasana kelas saat itu. Namun ini hanya sejenak. Sayapun kembali lenyap dalam kemeriahan acara yang mereka set itu.
Acara berlanjut ke pemotongan kue. Potongan pertama disuapkan kemulut saya. Suara riuh dan tepuk tangan memecah fikiran saya pada Khalif. Salah seorang diantara mereka berucap. "Selamat hari guru ya Bu", diiringi oleh ucapan siswa-siswa lainnya. " Terima kasih ya Bu, sudah sabar mendidik kami". "Maaf ya bu, kami sering buat Ibu marah". Sayapun hanya tersenyum bahagia menjawab ucapan mereka secara keseluruhan. " Iya Nak, sama-sama ya. Ibu juga minta maaf banyak kurang dalam mendidik kalian".
Pemotongan kue terus berlanjut, sayapun hanya bisa mempersilahkan mereka memakan kuenya secara bersama. "Silahkan kuenya di potong dan dibagi-bagi ya Nak. Awas, jangan sampai ada teman kamu yang ndak kebagian ya Nak". Merekapun mengerumuni meja saya. Mengantri potongan kue bagian mereka.
Suasana kelas semakin heboh, suasana seperti anak-anak yang tak pernah makan kue enak. Padahal anak-anak saya ini termasuk kwlas menengah ke atas dari segi ekonomi. Ya, makan bersama teman-teman secara berebutan itu sangan membuat rasa kue terasa sangat nikmat dibanding yang mereka beli sendiri di rumah masing-masing. Meski saya yakin, dengan jumlah dan kualitas kue yang jauh lebih enak sering dibelikan oleh orang tua mereka. Ya itulah arti kebersamaan, keberkahan yang tak ternilai harganya.
Namun, lagi-lagi mata saya kembali tertuju pada siswa tadi. Khalif hanya duduk teroaku di bangkunya. Dia tidak mengikuti kegembiraan teman-temannya berebut kue. Kenapa? Apakah dia tidak suka kue ini? Ataukan elergi? Kenapa? Berbagai pertanyaan muncul di benak saya. Namun saya di kejutkan kembali oleh surprise teman-temannya. "Bu, ini bunga saya buat sendiri semalam khusus buat Ibu. Semoga Ibu suka ya". " Bu, ini hadiah dari saya untuk Ibu, Di pakai ya bu".
"Bu, saya juga punya sesuatu untuk Ibu. Sehat selalu ya Bu"
Meja saya mendadak di penuhi bunga dan benda-benda yang sudah terbungkua rapi.
"Waaah.. Banyak sekali surprise dari kalian Nak. Ibu jadi ndak tau mau bilang apa lagi. "Terima kasih ya Nak, semoga apa yang kalian berikan ini berkah buat kita bersama".
"Aamiiin... Sama-sama Bu". Merekapun serentak menjawab dengan jawaban yang sama.
Siswa- siswa saya satu per satu kembali duduk ke bangkunya. Sebagian diantara mereka membantu membereskan meja saya. Membersihkan sisa-sisa kue yang berserakan di meja.
Keesokan harinya saya kembali masuk di kelas ini. Saya ajak siswa-siswa saya memulai pembelajaran dengan berdoa. Baru selanjutnya saya putarkan sebuah vidio untuk mereka diskusikan di kelompoknya masing-masing. Di tengah diskusi saya teringat dengan siswa saya khalif. Saya perhatikan dia di dalam kelas. Saya perhatikan sikapnya di dalam kelompoknya. Dia yang hanya diam dan sekali-kali tersenyum sebagai tanda mengikuti diskusi. Kembali saya bertanya dalam hati. Siapa anak ini ya? Kenapa dia bersikap berbeda dari yang lainnya? Apa yang membuat dia seperti tidak nyaman dengan suasana yang tercipta di kelas? Saya mencoba mencari tau.
Sayapun bersorak untuk mencek jalannya diskusi.
"Sudah selesai diskusinya anak-anak? "
"Sudah Bu".
"Kalau sudah selesai ayo kita buka diskusi lebih besarnya ya. Tolong anak-anak Ibu badannya kembali menghadap kedepan. Sekarang, siapa dan kelompok berapa yang bersedia mempresentasikan hasil diskusinya kebih awal?"
Kelompok satu bersorak. "kelompok satu Bu". "Ok boleh. Siapa yang bersedia jadi juru bicaranya?"
Saya memperhatikan wajah masing-masing anggota kelompok. Mata saya tertuju kepada anak yang kemaren menjadi perhatian saya. Khalif terlihat menunduk. Dengan kedua tangan berpegangan di atas pahanya. Wajahnya terlihat tak biasa. Entah takut, cemas atau kenapa? Sementara teman-teman sekelompoknya dengan antusias sekali mengangkat tangan berharap mereka yang dizinkan menjadi perwakilan kelompok. Sayapun menunjuk salah seorang dari teman sekelompoknya.
"OK, Yusuf silahkan presentasikan hasil diskusi kelompok kamu ya"
" Baik, terima kasih atas kesempatan nya Bu"
Sembari mengatur jalannya diskusi, mata saya sesekali masih memperhatikan siswa saya khalif. Pertanyaan yang sama kembali muncul di benak saya.
Akhirnya, di akhir pertemuan pada pembelajaran saat itu saya putuskan untuk memanggil siswa saya khalif.
Saya hampiri khalif kebangkunya.
"Khalif, bisa Ibu minta tolong sebentar?"
Diapun menjawab, "bisa bu, ada apa bu? "
" Terima kasih nak, mari ikut Ibu keluar"
"Baik Bu"
Diapun mengikuti saya keluar kelas. Sembari meminta izin kepada guru yang mengajar pada jam berikutnya. Saya mengajaknya ke ruang tunggu.
"Silahkan duduk khalif"
Khalif mengangguk dan duduk di kursi yang saya tunjuk.
"Khalif, Ibu boleh bertanya nak?"
"Humm.. Bo... Boleh Bu. Mau tanya apa Bu? "
"Ibu perhatikan khalif kurang semangat belajarnya. Tapi Ibu lihat khalif senang bersama teman-teman di kelas. Apa ada masalah khalifnya nak?"
Khalif hanya diam dan kembali menundukkan kepalanya.
"Apa ada yang membuat khalif tidak nyaman belajar sama Ibu? Apa ibu pernah berkata yang tidak tepat sehingga membuat khalif tidak nyaman?"
"Nggak bu, tidak ada apa-apa. Saya baik-baik saja bu".
" Oww begitu ya Nak. Syukurlah kalau memang tidak ada apa-apa. Tapi kalau ada seauatu yang bikin khalif tidak nyaman. Atau Ibu ada yang salah khalif janji ya, sampaikan sama ibu"
"Iya bu, tidak ada apa-apa, saya baik-baik saja".
Saya merasa belum mendapatkan apa yang saya cari. Tapi saya tidak bisa memaksa khalif untuk bercerita dengan saya.
" Baiklah nak. Kalau memang tidak ada apa-apa khalif bisa kembali ke kelas. Tapi khalif janji ya, kalau ada apa-apa harus cerita sama Ibu ya".
"Iya bu, terima kasih bu"
Khalifpun berlalu menuju kelasnya. Saya yang masih duduk terpaku dikejutkan dengan suara bel tanda pergantian jam berbunyi. Saya masih penasaran dengan anak ini. Pasti ada sesuatu. Saya harus memastikannya dari pada harus berlarut dalam kepenasaran ini.
Saya langsung mengambil telepon genggam yang ada di dalam saku lanjut mencari kontak Bunda khalif.
"Assalamu'alaikum... Dengan bundanya khalif? "
"Wa'alaikumussalam, ya Ibu jamilah. Ada apa bu?" Apa sesuatu terjadi dengan khalif di sekolah bu?"
Suara gemetar tapi terdengar jelas di telinga saya.
"Ngak bu, insyaallah khalif baik-baik saja di sekolah. Begini bu, saya ingin bertemu Iangsung dengan bunda khalif. Ada hal yang ingin saya bicarakan terkait Ananda kita khalif. Kira-kira kapan kita bisa bertemu ya bunda?"
"Oh begitu. ya Bu, insyaallah besok saya datang ke sekolah. Kira-kira jam 10,00 bu jamilah"
"Alhamdulillah, terima kasih sebelumnya ya buk. Sampai jumpa besok buk. Assalamu'alaikum"
"Sama-sama ibu Jamilah. Wa'alaikumussalam"
Tepat pada waktu yang dijanjikan Bunda khalif sudah sampai di sekolah. Dia langsung menemui Bu jamilah, wali kelas khalif di ruangan.
"Assalamu'alaikum Bu Jamilah. Saya Bundanya khalif. Apa kabar bu?
" Wa'alaikumussalam. Alhamdulillah Ibu khalif sudah sampai di sekolah. Saya sehat Bu. Mari silahkan duduk Buk".
"Terimakasih bu Jamilah. Apa gerangan ya bu, sampai kita harus bertemu langsung"
"Begini bunda khalif (sayapun mulai menceritakan kejadian di kelas yang membuat saya penasaran beberapa hari ini)
" Kira-kira kenapa ya bunda khalif. Kenapa khalif bersikap begitu buk?"
Saya tidak melihat wajah terkejut di wajah bundanya khalif. Seolah apa yang saya sampaikan itu adalah hal yang biasa dia dengar.
"Iya bu Jamilah, beginilah anak kita khalif buk. Dia selalu bersikap begitu ketika berada di sekolah dan diluar rumah. Tetapi di rumah bersama adiknya dia bisa bersikap tempramen buk. Tapi meskipun begitu dia selalu bercerita dengan saya. Termasuk kejadian di kelas waktu hari guru. Dia berkeinginan sekali mencicipi kue itu tapi dia tidak punya keberanian untuk maju kedepan untuk antrian mengambil potongan kue. Pernah juga dia bercerita kejadian saat pembelajaran Bahasa Indonesia. Dia sudah mempersiapkan semua bahan untuk presentasi di rumah. Nanun sampai di sekolah saat guru menanyakan siapa yang mau presentasi dia malah tak punya kekuatan untuk mengangkat tangan. Akhirnya diapun tak punya kesempatan untuk tampil di depan kelas. Hal ini membuat dia sangat kecewa dan kesal dengan dirinya sendiri".
Iya benar, khalif termasuk siswa yang pintar di kelasnya. Terbukti dengan nilai UH nya yang selalu bagus. Dia adalah siswa yang penurut tapi tercatat sebagai siswa yang tidak aktif di kelas.
Bunda khalif terus bercerita dengan mata berkaca-kaca.
"Ini semua salah kami buk. Kesalahan kami dalam mendidiknya waktu kecil bu. Beberapa tahun lalu, Khalif pernah kami bawa konsultasi kepada psikolog buk. Dari hasil konsultasi terbuka bahwa khalif seperti itu karena pola asuh yang salah. Khalif kurang terlatih dalam mengelola emosionalnya. Dia hampir tidak pernah merasa kecewa atau sedih karena tidak mendapatkan sesuatu.
Apalagi karena dia adalah anak pertama kami. Bagi kami itu adalah bentuk sayang kami kepada khalif. Kami selalu berupaya agar dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Sedikit saja dia merengek sang saya atau ayahnya langsung mengabulkan keinginannya. Bahkan pernah ketika dia menatap lama sepeda anak tetangga. Esok harinya sepeda barupun langsung datang bersama ayahnya.
Apalagi karena kesibukan bekerja, ketika khalif sibuk dengan sendirinya itu adalah hal baik bagi saya saat itu. Karena saya bisa bekerja dengan tenang tanpa menganggu saya bekerja".
"Maaf ibu, apa tidak ada keluarga atau teman yang menegur ketika itu? "
Bunda khalif menarik nafas panjang.
"Itulah bu, kesibukan dengan pekerjaan juga membuat saya kurang pergaulan. Saya juga jarang berkumpul dengan teman-teman untuk sekedar bercerita atau sharing tentang mendidik anak. Kebetulan kami juga tinggal jauh dari orang tua. Saya dan Ayahnya sama - sama merantau kesini buk".
Kehidupan yang kami ciptakan dengan tersedianya apa yang dia inginkan membuat hati dan jiwanya lemah. Khalif tidak terlatih bagaimana mengelola kekecewaan. Sejak pulang dari psikolog saya semakin bersalah. Kekurangan saya telah membuat saya merusak anak saya, generasi saya sendiri. Saya bertekad untuk anak kedua saya harus lebih baik lagi. Sejak itu saya mulai rajin untuk belajar. Saya sering mengikuti training motivasi, seminar parenting atau sharing di ruang belajar. Apakah melalui media online atau sekedar berkumpul dengan teman-teman. Ruang belajar, sangat membantu kami mencari ilmu untuk mempersiapkan diri menjadi seorang ibu atau ayah untuk anak-anak kami"
"Oh, jadi itu salah satu penyebabnya ya bunda. Jangan sedih lagi bunda. Insyaallah kita belum terlambat bunda. Kita bisa keluarkan khalif dari kesalah didikan ini. Saya juga mempunyai tugas dalam hal ini. Saya akan lebih memperhatikan khalif dan lebih memotivasinya bunda. Kita timbulkan lagi rasa percaya dirinya yang telah ditenggelamkan rasa kecewanya. Kita sama-sama berusaha dan berdoa untuk khalif ya bunda"
"Iya bu, terima kasih banyak atas perhatiannya bu. Kami juga sedang berusaha mengembalikan rasa percaya dirinya dengan sering membawanya ke alam. Membujuknya untuk mau mencoba dalam permainan-permainan yang menantang".
"Baiklah bu, terima kasih juga Ibu sudah mau bercerita dengan saya. Insyaallah dengan kerja sama yang baik khalif akan lebih baik bunda. Allah yang Maha penyayang bu".
Komentar
Posting Komentar