KITA TERPISAH DI MASA PANDEMI
Bulan ketiga tahun 2020 pandemi itu memasuki negri saya tercinta. Lebih familiar dikenal dengan covid-19. Dia cukup memberikan pengaruh yang besar dari berbagai sektor kehidupan. Termasuk kepada kehidupan saya sendiri. Banyak sejarah kehidupan yang takkan terlupakan dan takkan lekang dengan masa. Sebagai seorang guru jelas saya merasakan dampak pandemi ini dalam sektor pendidikan. Mengajar adalah aktifitas saya sehari. Saya menghabiskan lebih dari separoh hari-hari bersama siswa saya. Saling memberi pelajaran dan pengalaman.
Namun sungguh sayang, beberapa waktu kemudian siswa dirumahkan karena mengurangi penularan covid-19. Saya berusaha menjalankan aktifitas mengajar tanpa bertatapmuka langsung dengan mereka. Berusaha memberikan dampak positif dan memperilihatkan aura yang semangat kepada mereka dibalik layar. Meski kadang teriakan semangat suara saya kadang tak sampai ketelinga mereka secera baik karena singal yang kurang mendukung. Masih bersyukur saya masih bisa melampiaskan hobby dan emosi mengajar saya. Tak berlangsung lama, keputusan berlanjut dengan guru juga harus dirumahkan.
Saya harus menghabiskan waktu kehamilan 8 dan 9 bulan saya hanya di rumah saja. Meskipun begitu saya tetap berusaha melakukan kegiatan-kegiatan yang membuat saya banyak bergerak. Selalu berusaha berpikiran positif dari setiap keadaan yang harus dijalani. Mungkin ini adalah waktu yang harus saya gunakan secara efektif untuk diri saya dan keluarga kecil saya. Saya banyak menghabiskan waktu untuk membaca dan menghafal Alquran. Berharap anak yang ada dalam kandungan saya tumbuh sehat dan menjadi anak shaleh. Setiap selesai shalat subuh saya rutinkan tilawah, ziyadah dan murajaah Alquran. Berharap anak saya lahir dengan selamat dan tumbuh menjadi anak yg qurani. Usai itu saya lanjutkan dengan jalan pagi di depan rumah. Meski cuma beberapa meter tapi saya lakukan bolak balik sambil mengajak bayi dalam kandungan saya memurajaah hafalan. Meskipun begitu tak dapat dipungkiri menjelang hari kelahiran saya sering stres karena saya harus melahirkan dimasa pandemi. Begitu banyak kasus-kasus penanganan di RS yang negatif. Kecemasan saya akan melahirkan di RS dan tidak mendapat pelayanan yang baik dan mengancam keselamatan Bayi saya.
9 Mei 2020 tepatnya 16 ramadhan dini hari. Tidur saya mulai tak nyenyak, tanda-tanda akan melahirkan mulai terasa. Jam 12.00 saya terbangun dan merasakan sakit, tapi karena rasa kantuk yang begitu berat sehingga mengalahkan sakitnya. Jam 02.45 saya kembali terbangun, sakitnya semakin terasa dan semakin sering. Saya memutuskan untuk membangunkan suami karena beliau juga harus bersiap-siap makan sahur. Tepat azan shubuh saya tak sanggup tidur lagi. Perut saya semakin sakit , saya merasa telah mengeluarkan cairan tanda-tanda akan melahirkan. Akhirnya saya bersama suami segera pergi ke rumah persalinan yang sudah kami rencanakan.
Kami berangkat ke rumah bidan dengan sepeda motor. Sampai disana saya langsung mendapat penanganan serius karena pembukaan sudah lengkap. Tidak lebih 30 menit kemudian, Tepatnya pukul 06.25 dedek bayi yang sudah kami tunggu 9 bulan itu lahir dengan selamat. Dengan berbagai kemudahan yg diberikan dibandingkan melahirkan anak pertama saya yang harus vacum dan mengalami pendarahan. Syukur Alhamdulillah, kebahagiaan itu juga terpancar diwajah suami saya.
Setelah proses persalinan dan pembersihan bayi saya selesai, Ibu bidan meletakkan bayi itu ke dada saya dan selanjutnya meminta saya untuk menyusuinya. Tapi bayi saya tidak bisa melakukan itu. Kami berfikir mungkin bayi saya belum mengerti untuk mengisap. Akhirnya rencana awal itu gagal.
Beberapa waktu kemudian saya dipindahlan keruang inap di sebelah ruang persalinan itu. Bayi saya kembali menangis, dan kami disarankan memberi susu tambahan dulu. Tapi bayi saya hanya mampu mengkonsumsinya beberapa isapan saja. Dia seperti cekukan. Sejenak dihentikan dan dicoba lagi. Ternyata dia cekukan lagi. Bayi saya di bawa ke ruang bidan. Suami saya kemudian di panggil menyusul. Lama rasanya suami saya masih tak kembali. Hati saya mulai berkata-kata dan bertanya. Ada apa? Apa yang terjadi dengan bayi saya?
Beberapa waktu kemudian suami saya datang dan bergegas mengambil handphonenya, kemudian berlalu lagi. Saya berusaha tenang. Suami saya kembali dengan wajah sedih yang tak dapat disembunyikan. Matanya merah. Diam. Dia terlihat bingung mau mengatakan apa. Harus mulai dari mana. Baa bang? Dedek baa bang? Suami saya mulai bercerita, iapun tak mampu membendung air matanya. Anak kami mengalami kelainan. Dia tak dapat mengisap. Kemungkinan disebabkan kekurangan asam volad atau pengaruh stres. Saya menangis terisak-isak. Ampun bang. Ampun. Salah adek bang. Maafkan adek bang, tidak mampu menjaga anak kita bang. Saya mulai menjerit. Ampun ya Allah. Jangan tumpahkan dosa dan kesalahan hamba kepada anak hamba ya Allah...
Suami saya berusaha menenangkan. Ini bukan salah adek. Ini takdir kita bersama dek. Ini ujian Allah buat kita. Kita harus sabar menjalaninya. Insyaallah dedek bayi kita akan mendapatkan penanganan dan dia akan sembuh seperti bayi lainnya. Kita harus berikhtiar dan berdoa dek. Tidak perlu menyalahkan diri adek sendiri. Sorenya kami langsung membawa kami langsung konsultasi dengan dokter spesialis anak. Dokter menyarankan agar anak kami di rawat di RS. Namun karena saya dan suami saya memang tak punya banyak pengalaman dan ketakutan yang besar akan kehilangan anak kami. Kami tidak mengikuti saran dokter itu. Karena ada juga yang menyarankan kami bisa merawat anak kami sendiri di rumah. Tentunya melalui alat-alat dan penanganan khusus.
Bayi yang lahir di bulan ramadhan itu kami beri nama Syamil Ramadhan. 1 minggu bersama kami jalani ramadhan di rumah. Berbagai cara dan penanganan kami lakukan untuk kenyamanan bayi saya. Mulai dengan mengASI secara langsung, dengan menggunakan tabung bantu umum dan khusus. Tapi pada hari ke 7 dia di rumah, pada hari itu adalah hari pertama saya memandikannya. Keadaan bayi saya semakin drop. Dia tidak bisa mengkonsumsi seperti biasanya. Saya perhatikan gerak dan tangisnya juga kurang dari biasanya. Wajahnya semakin pucat. Tetangga saya menyarankan agar saya melakukan konsultasi dengan bidan. Maghribnya suami saya pulang kerja. Selesai shalat maghrib dan berbuka puasa kami putuskan untuk mendatangkan bidan ke rumah. Waktu terasa panjang menunggu bidan datang. Bayi saya semakin pucat dan berkeringat dingin. Saya sangat cemas dan sedih melihat kondisinya. Hanya doa-doa yang bisa saya ucapkan. Semoga keselamatan dan kasih sayang Allah selalu tercurah untukmu Anak sayangku. Maafkan segala kebodohan dan kesalahan yang orang tuamu perbuat. Bunda sangat mencintaimu nak, tapi bunda ndk tau musti berbuat apa untuk keselamatanmu. Saya peluk dan cium bayi tak berdaya itu sampai akhirnya bidan yang kami tunggu-tunggu datang. Bidan itu memeriksa keadaan bayi saya. Bayi saya harus mendapatkan pemeriksaan serius di rumah sakit. Kemingkinan ASI telah memasuki paru-parunya. Sehingga membuat dia susah bernafas.
Akhirnya malam itu, Sabtu 16 mei akhirnya kami membawa dedek bayi ke RS, setelah melewati beberapa prosedur akhirnya diputuskan bahwa bayi saya harus di rawat. Dengan sangat berat hati saya harus meninggalkan bayi saya disana. Mempercayai sepenuhnya kepada tenaga kesehatan disana. Dalam hati saya berdoa. Ya Allah, ampuni dosa hamba. Jangan jadikan dosa hamba membuat engkau marah dan menimpakannya kepada anak kami. Kami titipkan dia kepadaMu ya Rabb,,, jagalah dengan sebaik-baik penjagaanMu ya Allah, berikan ia kesehatan yang sempurna.
Sekitar 23.30 semua pengurusan bayi kami sudah selesai. Kami diminta pulang dan akan dihubungi jika ada hal-hal yg diperlukan. Di parkiran saya tak mampu tahan hati dan bendungan air matapun lepas. Isak tangis dalam rintik hujan saya lepaskan. Saya dekap badan suami saya untuk meminta kekuatan. Sesaat suami saya hanya diam baru kemudian berkata. Percayakan kepada Allah, insyaallah dedek sudah ditangani oleh orang yang ahli. Kita tinggal berdoa semoga Allah berikan yang terbaik untuk dedek. Kita harus kuat dan sabar.
Saya tau suami juga sangat terpukul dengan keadaan ini. Tapi dia berusaha menahan dan menyembunyikannya. Berusaha menguatkan saya meski sebenarnya dia juga seakan goyah. Sampai di rumah kontrakan saya sdh ada ibu mertua, adik dan ipar saya. Saya di hadang dengan pertanyaan anak pertama saya, Syafiq. "Ma dedek wak nda?
Saya tak punya kosa kata untuk menjawab pertanyaan anak saya itu. Suami dengan berusaha bijak menjawab. Dedek kita kan sakit nak, jadi diperiksa dokter dulu sampai sembuh ya. Syafiq bantu doa ya nak, semoga Allah beri dedek kita kesembuhan. Syafiq hanya mengangguk dan sayapun langsung masuk kamar. Dada saya semakin sesak, tanpa malu saya melepaskan tangis saya dengan posisi sujud ke bantal agar suara saya tidak terdengar keras. Ingat Allah dek, kita harus beriman. Ini ujian dari Allah. Kita harus sabar. Kita harus siap dengan segala kemungkinan. Dedek adalah milik Allah. Kita semua akan kembali kepadaNya pada waktu yang ditentukan. Suami saya berusaha menenangkan dan mengingatkan saya kepada sang Maha Kuasa. Ibu mertua mencoba menenangkan saya dengan menceritakan bahwa dia juga pernah kehilangan anaknya yang masih kecil. Insyallah Allah akan memberikan yang terbaik. Kita harus kuat dan sabar. Tangis sayapun terhenti saat saya berhasil melelapkan mata. Badan terasa lelah dan lemas.
Minggu terakhir ramadhan sahur berjalan hening tanpa tangisan bayi kami lagi. Suasana rumah terasa sunyi. Masing-masing pribadi memilih banyak diam. Suami memutuskan tetap bekerja dengan menstandbykan HP jika ada telpon dari RS. Sayapun berusaha kuat dengan tetap memeras ASI. Bayi kami tetap kami beri ASI. Sekali 2 hari suami saya mengantarkan ASI sambil melihat perkembangan anak saya. Setiap saya menyiapkan ASI seperti ada semangat tersendiri bahwa bayi saya akan sangat senang dan kuat dengan mengkonsumsi ASI saya. Meski kadang tak dapat saya pungkiri air ASI yg saya tampung diiringi dengan deraian air mata. Kadang syetanpun memberi saya keputusasaan entah ASI ini akan sampai kepada anak saya entah tidak.
Malam 27 ramadhan kami mendapat telpon bahwa besok pagi saya diminta ke RS. Dokter meminta saya belajar memberi ASI kepada bayi melalui alat yang namanya sonde. Saya menafsirkan bahwa bayi saya memiliki perkembangan yg baik. Esok hari saya dan suami pergi ke rumah sakit. Saya diizinkan menggendong bayi saya. Bahagia tangan ini kembali bisa menggendong dan mendekapmu nak. Tapi hati saya terasa tersayat sembilu melihatmu penuh dengan kabel yg sayapun tak tau fungsinya apa. Dia terus menangis tak henti. Bibirnya kekeringan dan pecah-pecah. Bibir yg kangen sekali mengisap ASI. Tapi perawat memberikan kabar gembira bahwa perkembangan bayi saya cukup bagus dan Insyaallah besok sudah bisa di bawa pulang. Saya hanya diizinkan beberapa menit saja. Setelah mengajari saya memberikan ASI, saya diminta keluar dan pulang. Kembali menunggu kabar melalui telpon.
Malamnya saya sudah bersiap-siap. Membayangkan bahwa saya akan kembali membawa bayi saya pulang. Saya sudah bertanya kepada suami dengan apa bayi kami akan dibawa pulang. Sayapun menyiapkan selimut bayi dan gendongan bayi saya yang masih tersimpan rapi di dalam lemari. Saya benar-benar sudah berhayal akan mengendong bayi saya pulang.
Malam itu malam terasa panjang. Kami dibangunkan dengan bunyi HP suami saya. Nada dering dari telpon RS di buat khusus oleh suami saya agar penggilan mereka tidak terlewatkan. Suami mengangkat telpon. Jantung saya berdetak kencang. Harap-harap cemas. Jika memang bayi saya sudah bisa pulang kenapa di telpon terlalu pagi? Apa yang terjadi dengan bayi saya?
Suami saya menjelaskan dengan hati-hati. Bayi kami Syamil Ramadhan ternyata kondisinya memburuk dari semalam. Dokter meminta persetujuan kita agar kembali memasangkan oksigen dan alat-alat lainnya. Saya hanya diam sambil air mata terus mengalir. Saya merasa dipermainkan. Namun selalu berusaha kuat dan sabar semampunya. Adek sudah berharap bang, sudah membayangkan kita akan membawa syamil pulang hari ini. Kembali kita berdoa semoga keadaan syamil kembali membaik dek. Kami berpelukan sama-sama berharap saling menguatkan.
Ramadhan telah berakhir. Syawalpun sudah masuk. Biasanya kami sudah di kampung. Keadaan bayi saya ini masih saya rahasiakan kepada Ibu saya. Saya tidak ingin mencemaskannya di kampung. Kalau dia tau dia akan bersikeras ke bukittinggi melihat cucunya. Sementara pandemi masih hangat-hangatnya. Perjalanan antar kota masih diatur sangat ketat. Belum lagi kecemasan jika ibu saya terkena virus yg sangat menakutkan itu.
Saya harus kuat. Saya punya anak 3 tahun yang harus saya bahagiakan juga di hari nan fitri ini. Kami tetap membawanya shalat id dan pergi bersilaturahmi ke rumah keluarga terdekat.
Sabtunya lagi, pada pulul 23.00 WIB 23 Mei 2020 kami kembali mendapat telpon dari RS. Keadaan Bayi saya semakin memburuk, dia harus segera di rujuk ke RS pusat. Malam itu juga suami dan adik saya berangkat ke rumah sakit, mengurus persyaratan pemindahan bayi saya. Saya hanya menunggu di rumah. Tidak ada kekuatan lagi untuk melihat tubuh mungil bayi saya yg penuh dengan alat-alat medis itu. Sekitar jam 00.45 suami dan adik saya kembali ke rumah. Kita hanya diminta berdoa dan menunggu telpon saja. Kita harus siap dengan segala kemungkinan dek. Ikhlaskan semua yang terjadi dan yang akan terjadi. Suamiku tampak berusaha menguatkan dirinya sendiri.
Esok harinya saya dan suami pergi ke RS. Hanya bisa duduk dan menunggu di luar. Berusaha melihat dibalik kaca dan mencari dimana dan mana bayi saya. Saya tak menemukan bayi saya di antara bayi-bayi yang lain. Ternyata dia berada di ruang perawatan khusus.
Kami sudah berbicara dengan dokter. Mereka sudah melakukan pemerikasaan lain. Tidak ditemukan kelainan. Jantung, paru-paru dan lainnya aman. Kita sudah berusaha memberikan yang terbaik. Kita hanya bisa berdoa semoga Allah berikan yang terbaik. Kita harus ikhlaskan apapun yang terjadi. Hal yang sama seperti yang di sampaikan suami saya disampaikan dokter.
Ya... Saya ikhlas. Insyaallah saya ikhlaskan jika dia pergi selamanya. Saya ikhlaskan sang penyayang yang sesungguhnya memanggilnya. Saya kembali diantar suami pulang karena kondisi saya sendiri masih belum pulih setelah baru beberapa 3 minggu melahirkan.
Di rumah saya dapati sahabat-sahabat saya, rekan kerja saya yang memberikan perhatian dan samangat untuk saya. Hanya beberapa menit duduk di rumah. Pihak RS kembali menelpon. Bayi saya sudah dalam keadaan sangat kritis. Detak jantungnya semakin lemah. Saya tetap di rumah dan suami saya kembali ke RS.
Jam 17.15 saya mendapat telpon dari suami saya. Bahwa bayi saya benar-benar sudah pergi menghadap sang penyayang. Saya sudah ikhlaskan, tapi tetap saja dada saya sesak. Air mata tak mampu di bendung. Anak saya Syafiq bertanya kenapa menangis bunda? Saya peluk erat anak pertama saya. Ndak apa sayang. Adik kita syamil sudah meninggal nak. Dia akan masuk syurga Allah. Ndak usah menangis bunda, kan masih ada Syafiq anak bunda. Semakin saya peluk erat anak saya, semangat saya.
Tetangga kontrakan mulai berdatangan memberi motivasi agar saya mengikhlaskan kepergian anak saya. Mereka juga membantu penjemputan jenazah bayi saya. Alhamdulillah Allah memberi saya tetangga yang perhatian dan supportnya luar biasa saat saya jatuh lemah seperti ini. Usai shalat maghrib saya bersama ibu saya yang sudah datang dari kampung pergi ke rumah sakit. Bayi yang saya tinggalkan di RS 2 minggu lalu sekarang harus saya jemput dalam keadaan mayat. Tuhan... Kuatkanlah hambaMu ini.
Sekitar jam 20.00 kami sampai di rumah mertua saya. Keluarga dan tetangga sudah ramai menunggu kami. Keadaan yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Keluarga saya dari kampung juga berangkat malam itu. Malam yang paling sunyi. Saya tak mampu lagi menangis. Hanya badan yang lemas dan semakin lemas.
Esok hari dilakukan penyelenggaraan jenazah bayi saya. Pada proses pemandian saya lihat badan mungil nan kurus itu sudah penuh dengan bekas suntikan dan alat-alat medis. Begitu berat sakit yang kamu tahan selama di RS nak, bunda ikhlaskan kamu pergi nak. Isak saya dalam hati.
Setelah selesai pemandian dan mengkafani. Kami bawa ke tempat pemakaman kaum. Tempat bayi saya akan dikebumikan. Pertemuan terakhir kita nak. Semoga kita kembali dipertemukan di syurgaNya kelak. Istirahatlah dengan tenang disisi Tuhan kita yang maha penyayang.
Terima kasih ya Allah telah mengizinkan kami bersama di dunia. meski hanya 1 minggu bersama dan 2 minggu terpisah. Semoga pertemuan kami nanti kekal adanya di SyurgaMu. Aamiin ya rabbal 'alamiin..
Haripun berlalu, beberapa hari setelah kepergian bayi saya. Suami saya kembali bekerja. Saya menghabiskan waktu di rumah bersama anak pertama saya Syafiq sang penyayang dan penyemangat saya. Sambil memulihkan badan saya dalam masa cuti. Hari2 kembali kami jalani bertiga. Menguatkan diri dan saling menguatkan. Terima kasih Tuhan atas segala nikmat kasih sayangMu di antara kami.
Pandemi masih belum berakhir. Pembelajaran berangsur2 diizinkan secara tatap muka, meski dibatasi waktu dan jumlah peserta didiknya. Saya kembali menjalani rutinitas saya sebagai guru.
9 bulan kemudian saya kembali di beri kepercayaan hamil lagi. Saya pastikan itu melalui tespack. Baru 1 minggu, saya mengeluarkan darah. Saya hubungi suami dan ceritakan kondisi saya tersebut. Kemudian dia langsung pulang dan membawa saya periksa ke bidan. Bidan merujuk saya agar melakukan USG lengkap dengan rekomendasi dokternya. Langsung ke klinik dokter yang dimaksud. Dokter tidak melihat apa-apa di rahim saya. Saya hanya di beri obat dan diminta istirahat. 2 hari kemudian saya mengeluarkan gumpaan darah yang saya pastikan itu adalah janin saya. Saya simpulkan sendiri bahwa saya telah keguguran. Saya telpon suami dan menceritakanya. Suami hanya bilang berarti tidak rezki kita. Kita ikhlaskan ya dek. Saya menangis. Saya Kembali harus kehilangan
Kami kembali kontrol kepada dokter tersebut. Hasil USG selanjutnya masih hal yang sama, dia tdk melihat apa-apa di rahim saya. Dokter itu bilang saya sudah keguguran, belum rezki berarti. Saya mencoba meminta surat istirahat tapi dokter bilang saya tdk perlu istirahat sudah bisa beraktifitas seperti biasa lagi.
Seninnya, 22 februari saya mengajar seperti biasa. Setelah pembelajaran pertama di kelas 9a, saya merasa pusing dan akhirnya pingsan. Seorang siswa langsung mengabari guru lain ke ruang guru, tepatnya ruangan sebelah kelas 9a. Sesaat saya merasa sadar dan pingsan lagi. Pada akhirnya saya di bawa ke rumah sakit.
Beberapa pemeriksaan dilakukan. Suami, saudara dan anak saya sampai di ruangan UGD. Air mata yg tak mampu mereka sembunyikan membuat saya kasihan kepada mereka. Saya lagi-lagi membuat mereka cemas. Anak saya syafiq tak mau berkata apa2, melihat sayapun dia enggan. Benar, seperti yang dia katakan kepada adik ipar saya. Mengapa bunda tidurnya lama sekali Uncu? Apa bunda juga mau ke syurga? Mungkin anak saya ingat adiknya dulu lama di RS akhirnya meninggal. Dia juga berfikir hal yang sama akan terjadi pada bundanya.
Mereka adalah alasan saya untuk bertahan dan semangat. Saya masih ingin bersama mereka. Saya masih ingin membahagiakan mereka. Dalam hati saya berdoa, wahai Tuhan yang maha segalanya, Tuhan maha penyembuh. Tidak ada yang berbahaya segala yang di langit dan di bumi jika bersamaMu. Tolonglah hamba ya Allah. Selamatkan hamba dan izinkan hamba kembali pulang dengan sehat.
Dukungan dan support dari pimpinan dan rekan kerja saya sungguh luar biasa. Mereka mengurus saya sampai kondisi saya aman di rumah sakit, mencarikan pendonor darah serta meminta langsung kepada wakil direktur RS agar memberikan pelayanan terbaiknya untuk guru kami. Pimpinan tempat saya mengajar menyampaikan riwayat saya yang beberapa waktu lalu saya keguguran. Dokter segera melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap rahim saya. Beberapa waktu kemudian dokter memutuskan bahwa saya hamil di luar rahim. Saluran telur saya sudah mengalami pendarahan hebat dan harus segera di operasi serta transpusi darah.
Keluarga, sahabat, rekan kerja semuanya bergegas mencari pendonor. Berita saya membutuhkan darahpun beredar di media sosial. Alhamdulillah saya di pertemukan dengan orang-orang baik. Pendonorpun datang melebihi kebutuhan. Semoga niat baik mereka di balasi oleh Allah dengan pahala berlipat ganda. Saya dihujani doa-doa keselamatan. Orang tua, keluarga, sahabat dan siswa siswi saya di sekolah. Kerja sama dan semangat para Dokter untuk keberhasilan operasi dan keselamatan saya. Melalui mereka semua Allah izinkan saya selamat dari kondisi darurat itu. Empat hari di rumah sakit dengan meliwati masa-masa kritis bahkan tekanan darah dan HB saya jauh di bawah normal. Hari ke 3 saya sudah bisa berjalan sendiri. Saya menncoba keluar mencari udara segar. Duduk di kursi panjang bersama suami yang selalu menemani saya selama 3 hari ini di RS sambil menghirup udara segar dan merasakan panasnya mentari pagi. Ya Allah, terima kasih masih menyelamatkan saya dan mengizinkan saya kembali bisa menghirup udara segarMu. Kondisi saya tetap stabil dan saya sudah diizinkan pulang.
Di rumah saya dapati Ibu saya, dia menangis bahagia melihat saya kembali pulang. Syukur bahagia anaknya bisa kembali pulang dengan selamat. Lanjut Saya di kejar anak saya.Nampak wajah bahagianya menyambut kepulangan saya. Ternyata Bunda pulang dengan selamat, tidak seperti dedek Syamil. Alhamdulillahirabbil’alamin. Terima kasih atas segala NikmatMu ya Rabb.
Bagi saya, saya dan keluarga adalah milik Allah. Allah berhak memberikan dan mengambil apapun menurutnya yang terbaik. Semua kisah dimasa pandemi adalah rencana Allah. Disamping beberapa nikmat yang Allah ambil dari kami, Allah berikan limpahan rezki yang luar biasa. Saya lulus PPG dan mendapatkan tunjangan sertifikasi di masa pandemi. saya dan suami bisa membeli tanah dan membangun rumah di masa pandemi. Fabiayyiala irabbikuma tukazziban.
Saya harus tetap semangat menjalani hidup. Tidak semua orang diberi ujian seberat yang kami rasakan. Tapi Allah juga tak berikan nikmat seperti yang kami peroleh ini kepada semua orang.
Hidup adalah untuk di jalani, bukan untuk di ratapi. Teruslah melaju tanpa harus menoleh kebelakang. Tapi ingat ada spion yang harus sesekali kita lihat agar perjalanan tetap nyaman.
10 bulan telah berlalu, 7 januari 2022 saya cek testpack menunjukkan hasil bahwa saya positif hamil. Masih belum jalan mulus. Beberapa hal juga sudah saya lalui, darah keluar lagi. Sering merasa sakit bagian perut. Konsultasi ke bidan saya kembali di rujuk ke UGD. Beralaskan permohon pertolongan dari Allah saya putuskan tidak ke UGD. Tapi pada usia 7 minggu kehamilan saya konsultasi dengan dokter spesialis yang lain. Janin saya tidak ditemukan dengan USG biasa. Akhirnya saya harus melakukan USG transvagina. Alhamdulillah janin saya ditemukan di dalam rahim dengan detak jantung yang jelas. Saya tersenyum bahagia. Terima kasih ya Allah nikmat yang tiada putus Engkau berikan. Mohon kekuatan, kesehatan dan perlindungan bagi saya dan janin saya. Jadikanlah anak saya dalam bentuk yang sempurna hingga saya bisa mendidiknya menjadi anak shaleh shalehah.
#Tidak ada foto terkait karena saya tidak mau ada kenangan tapi semua terekam kuat diingatan๐ฅ
Wah, jadi meleleh bundo bacanya. ๐ข Perjuangan ibu sejati. Hamba yang memang berpasrah diri kepada Sang pemilik hidup. Sejatinya itulah rencana terbaik Allah tuk setiap umatnya, tidak ada yg salah alamat. ๐๐
BalasHapusSemangat menulis terus ya, ini akan bisa menjadi sebuah cerpen dan novel kelak aamiin yra