SUKSES DALAM FISIKA
Apakah harta yang menjamin kesuksesan kita? Ataukah
keluarga yang menjamin kesuksesan itu? Ataukah sekolah? Tentu tidak. Tapi
harta, keluarga, dan sekolah akan menghantarkan kita kepada kesuksesan.
Saya bukanlah berasal dari keluarga yang kaya raya.
Berasal dari keluarga cukuppun sulit mengakuinya. Bahkan orang kantor wali
nagari mengakui saya berasal dari keluarga tidak mampu. Ini ditandai dengan
keluarnya surat keterangan tidak mampu sebagai syarat saya mendapatkan beasiswa.
Beasiswa yang yang selalu saya dapatkan mulai masuk sekolah SD sampai
wisuda S1. Alhamdulillah...
Selain tidak mampu keluarga saya juga bukan dari
keluarga berpendidikan, dalam arti tanpa ijazah. Tapi ini tidak membuat saya malu justru ini menjadi cambuk bagi saya untuk semangat belajar. Anak
harus lebih sukses dari orang tuanya. Alhamdulillah saya adalah sarjana
pertama dari anak yang orang tuanya tanpa ijazah. Karena keterbatasan keuangan, saya juga tidak bisa memilih sekolah favorit. Memilih sekolah harus
mempertimbangkan biaya dan jaraknya yang dekat, menimbang biaya
transportasinya. Tapi yakinlah sekolah biasa tidak membuat kita menjadi orang
biasa justru bisa luar biasa.
Saya sendiri dahulu waktu sekolah di MAN sangat membenci
pelajaran fisika, terbukti dengan nilai fisika saya yang sangat jarang
sekali berwarna hitam. Tapi sekarang saya berprofesi sebagai guru fisika
dan dipercaya membina olimpiade fisika disekolah. Mewakili sekolah untuk
Olimpiade Guru Nasional antar sekolah se-kota Bukittinggi (Alhamdulillah belum
pernah juara 1, He.. doakan tahun ini bisa sukses). Sungguh aneh bukan?
Tidak ada yang aneh dan mustahil jika ada keinginan dan usaha yang keras.
Dikatakan mencintai Fisika mungkin belum tapi saat sekarang
ini fisikalah pelajaran yang saya sukai. Terinspirasi dari fisika saya ingin berbagi motivasi “sukses dalam fisika”. Motivasi yang sering kali saya sampaikan di kelas. Sukses dalam fisika dirumuskan dengan persamaan :
W = F . ^s
Dimana W adalah usaha, F adalah gaya dan ^s sebagai perpindahan (kesuksesan). Secara matematis diperoleh rumus ^s = W/F . Diartikan bahwa perpindahan itu sebanding dengan usaha dan berbanding terbalik dengan gaya. Semakin besar usaha yang kamu lakukan maka semakin besar juga kesuksesan yang kamu dapatkan. Berbanding terbalik dengan gaya, bukan berarti kamu tidak boleh banyak gaya dalam berusaha. Asalkan gayamu tidak melebihi usahamu maka kamu akan tetap mencapai kesuksesanmu.
Almarhumah Hj. Yulia Jamal, M.Pd (dosen ustadzah di STAIN
Batu sangkar) mengatakan “belajarlah kamu seolah-olah esok kamu akan mengajar”.
Adakah seorang guru berani mengajar tanpa konsep yang mantap dikepalanya?
Mustahil seorang guru mengajar tanpa terlebih dahulu belajar. Andai semua siswa
mempersiapkan dirinya setiap malam seolah-olah esok ia akan menggantikan
gurunya mengajar, maka di kelas tidak perlu lagi ada pemberitahuan kuis, UH, TO
bahkan UN sekalipun.
Ini juga sesuai dengan persamaan fisika dalam hukum III Newton F aksi = -F reaksi . Dimana gaya aksi yang diberikan akan menimbulkan gaya reaksi yang sama besarnya meskipun dengan arah yang berlawanan. Apa yang kita peroleh sekarang merupakan hasil dari apa yang telah kita lakukan. Pengambilan keputusan sekarang merupakan aksi nyata yang kita tahu kedepannya akan menimbulkan suatu konsekuensi yang harus kita jalani sebagai reaksinya. Aksi dari keputusan yang telah kita ambil kadang sesuai dengan apa yang kita harapkan dan tidak jarang hasilnya berlawanan dengan apa yang kita inginkan. Yakinlah ada yang Maha Kuasa dan yang Maha Tahu yang pasti akan memberikan yang terbaik untuk kita. Allah tidak memberi apa yang kita inginkan tapi apa yang kita butuhkan. Kupu-kupu yang indahpun berasal dari kepompong yang buruk rupa dan ulat yang menjijikan. Salam fisika dan semangat...
By. WELNA RISNA YENTI,S.Pd.I
(Dikutip dari Majalah beraksi edisi 2017 SMP islam Al Ishlah Bukittinggi
Wah, dah bisa nih, satu buat cerita inspiratif. Diperbaiki lagi ejaan dan kalimat nya ya. Tambahkan beberapa kalimat lgi untuk penyemangat dan jangan lupa buat biodata nya. Ok
BalasHapus